Pengertian dan Dasar Hukum Riba

Pengertian dan Dasar Hukum Riba
Kata riba (arriba) menurut bahasa, yaitu tambahan (azziyadah) atau kelebihan. Riba menurut istiiah adalah suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar-menukar sesuatu barang yang tidak diketahui sama sekali menurut syarak, atau dalam tukar-menukar itu diisyaratkan menerima salah satu dari dua barang apabila terlambat.Syekh Muhammad Abduh mendefinisikan, riba adalah penambahan-penambahan yang diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya atau uangnya karena janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan.
Riba dapat terjadi pada utang-piutang, pinjaman, gadai, atau sewa-menyewa, Sebagai contoh, Ridwan meminjam uang sebesar 20.000,00, pada hari Selasa disepakati dalam setiap satu hari keterlambatan, Ridwan harus mengembalikan uang tersebut dengan tambahan 2%. Maka, hari berikutnya Ridwan harus mengembalikan hutangnya menjadi 20.400,00. Kelebihan atau tambahan ini disebut dengan riba.
Hukum melakukan riba adalah haram menurut Alquran, sunah dan ijmak para ulama. Keharaman riba terkait dengan sistem bunga dalam jual beli yang bersifat komersial. Di dalam melakukan transaksi atau jua! beli, terdapat keuntungan atau bunga tinggi melebihi keum'uman atau batas kewajaran, sehingga merugikan pihak-pihak tertentu. Fuad Moch. Fahruddin berpendapat bahwa riba adalah sebuah transaksi pemerasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar